Jumat, 21 Juni 2013

Rainbow Cake


Gadis itu masih duduk tenang di kubikelnya.Jari-jarinya menari lincah di atas keyboard,mengetik beragam tuts yang menghasilkan deretan angka-angka di layar PC-nya.Meskipun dia berhasil memasang pandangan mata yang fokus ke arah benda persegi tipis tersebut tapi gue terlalu yakin kalau pikirannya sedang asik 'berselingkuh' dengan hal lain,entah itu apa.Dia tampak gloomy.

Ini hari pertama gue dan dia kembali beraktivitas di kantor Jakarta setelah kemarin outing sekaligus tugas kantor di Pangalengan,Bandung.Jumat sore sewaktu perjalanan Jakarta-Bandung,Lala masih tampak ceria.Sepasang matanya berbinar-binar saat dia mendeskripsikan jadwal kegiatan kami di Bandung selama beberapa hari.

"Bapak,besok kan kita ada kegiatan outbound gitu.Bisa seharian.Jadi besok pagi jangan lupa sarapan lho,Pak.Badan Bapak kan gede banget,kalo Bapak besok tiba-tiba pingsan saya nggak bisa gendong Bapak kan tuh."

Hmm...ini mau kasih saran atau mau menghina?

"Terus Minggu kita ada kunjungan silang ke beberapa peternakan.Bapak jangan lupa ya bawa masker.Bapak kan suka jadi sok British gitu kalo nyium bau kandang.Hehe..."

Ggrrrhh...kayaknya tadi gue bawa obat bius gajah.Lumayan buat bikin anteng ini anak.

"Kalo Senin sama Selasa kita ngantor aja kayak biasa,Pak.Oh iya ada meeting juga Senin sorenya,kemungkinan sampe malem.Terus Selasa sore kita baru balik lagi ke Jakarta."

Haha...gue curiga dia kerja sambilan jadi sekretaris.Dia masih terus berkicau,membeberkan detailschedule tanpa melihat agenda.Sepertinya tugas kerja ke luar kota kali ini dia anggap sama sucinya seperti mengikuti Ujian Akhir Nasional,sehingga setiap detail kegiatan yang akan dan harus kami lakukan selama di Pangalengan harus dia hafal dan pelajari sebaik mungkin.

* * *

Sabtu pagi gue melihat sepasang mata yang selalu berbinar itu bengkak.Wajahnya sangat pilu,bibir mungilnya yang terbiasa melakukan ritual suci mengucapkan selamat pagi pada gue masih tersenyum namun singkat dan getir.Bukan senyuman ramah atau jahil yang biasa gue dapat!Kenapa dia?

Gue juga tidak menangkap wajah ketakutan Lala saat acara outbond kantor berlangsung.Setiap tiba giliran dia memainkan setiap games di outbound tersebut,dia langsung maju bermain dengan yakin dan berani,seperti prajurit perang yang siap jiwa raga terjun ke medan pertempuran.Dan sekilas,gue begitu yakin melihat jelas lukisan Monalisa di wajahnya.Misterius tanpa ekspresi,namun gue tahu dia sedang tersiksa.

* * *

Minggu siang...

Panik!Sumpah gue panik!Lala pingsan!Wajahnya pucat,badannya panas,dan telapak tangannya dingin.Sejak pagi gue sudah curiga dia sakit waktu nggak sengaja gue nyentuh tangannya pas dia nyerahin iPad gue,gue bisa merasakan tangannya panas.Tapi mulutnya yang biasa cerewet dan suka marahin gue cuma mampu ngeluarin kata-kata "I'm fine,Sir.Training to be a statue.Hehe..." yang sudah pasti nggak gue percaya.

Dua hari lalu dia yang meledek gue kalau gue mudah pingsan karena nggak sarapan.Sekarang kondisi justru terbalik.Lala pingsan yang gue yakini biang keladinya bukan karena absent sarapan.Dia pingsan persis di sebelah gue.Gue sendiri yang berlari menggendong dia ke parkiran mobil dan membawa dia ke klinik kantor dekat mess tempat kami bermalam di Pangalengan.Gue tidak berpikir untuk membawa dia ke rumah sakit karena letak rumah sakit terlalu jauh dari venue kami,dan gue sudah terlanjur parno dengan keadaan anak buah gue yang satu ini.

Sudah hampir tujuh jam gue mendampingi Lala di klinik.Dia sudah siuman namun saat ini dia sedang tertidur pulas,menyerah dengan obat yang satu jam lalu dia minum.Pergelangan tangan kirinya diinfus,dan kantong infus pertamanya sudah berganti.Perlahan rona wajahnya 'membunuh' wajah pucatnya.Suhu badannya mulai menurun.Dokter bilang dia kecapekan sekaligus stress sehingga jatuh sakit.

Lala,dia bawahan gue yang berjiwa paling keras sekaligus satu-satunya staff perempuan di divisi yang gue pimpin.Sudah hampir sembilan bulan gue jadi atasannya semenjak dia dipindah tugaskan di kantor kami di Tebet yang sebelumnya dia mendedikasikan dirinya di kantor kami yang terletak di Daan Mogot.Selama hampir sembilan bulan itu lah kami juga jarang akur.Hampir setiap hari kami punya alasan untuk ribut.Gue tipe orang yang nggak bisa dibantah,sementara gadis ini begitu kritis.Setiap gue kasih perintah,dia selalu menguraikan beberapa pertanyaan bahkan pernyataan untuk perintah gue karena menurut dia terkadang perintah gue bersifat absurd,nggak mesti selalu dituruti apalagi dilaksanakan.

Meskipun satu-satunya perempuan,tapi dia berani mengemukakan pandangan dia dan tegas berkata TIDAK.Menurut dia loyalitas dalam bekerja itu perlu,tapi bukan berarti harus menjadi penjilat dan mencelakai rekan kerja yang lain.Perusahaan memberi karyawan penghidupan berupa gaji bulanan pun bukan berarti menjadi alasan untuk memperlakukan pekerjanya semena-mena.Karena buat dia "Company pays my salary for MY WORKS.I work,company pays".Tidak ada hutang budi!Itulah yang membuat dia untuk tidak sembarangan mematuhi perintah atasan.Dan dia adalah bawahan gue yang paling berani dan paling sering mematahkan pendapat dan prinsip gue sebagai atasan.

Tapi harus gue akui meskipun keras dan sering adu argumen,dia adalah satu-satunya bawahan yang paling tahan dan paling sabar menghadapi ego gue sebagai atasannya.Sering beberapa staff nggak tahan dengan sikap dan pikiran gue,mereka jauh lebih memilih untuk resign atau memohon-mohon pada kantor setidaknya untuk dimutasi.Sementara Lala setelah dia kesal setengah mati menghadapi gue,dia tetap terlihat enjoy dan bersikap baik seperti biasa lagi pada gue.Itulah yang membuat gue merasa tetap dihargai oleh dia.

Dan sekarang,di antara jutaan tempat yang ada di muka bumi ini yang ingin gue kunjungi,di antara miliaran manusia di dunia ini yang ingin gue tatap wajahnya lama-lama kenapa harus di klinik besar ini gue terdampar?Dan kenapa gadis ini yang sekarang gue tatap wajahnya lama-lama?Mendadak gue kangen dengan sikap kerasnya,kesinisan dia,kebawelan dia.How I want that all back to me.

Mendadak Lala membuka matanya.Perlahan dia memandang gue dengan sendu.

"Neng,kamu cepet sembuh ya.Saya kangen kita berantem,Neng..." mendadak mata gue basah.

* * *

Gue masih mengawasi Lala diam-diam dari balik tirai jendela ruang kerja gue.Masih diam tenang duduk di kubikelnya,masih sibuk mengetik,DAN masih terlihat gloomy.Oh God,gadis di kubikel itu bukan Lala yang gue kenal.Lala yang gue kenal adalah karyawan yang sesibuk apapun menyelesaikan pekerjaannya dia tetap masih sempat untuk membuka akun facebook-nya,masih sempat menulis blog,dan tentu saja masih sempat ber-chatting ria.Tapi Lala yang gue intip sekarang dari kejauhan adalah Lala yang hanya fokus dengan lembar kerjanya di layar PC.

Gue nggak tahan!Dia udah sembuh total tapi kenapa ekspresi wajahnya masih begitu?Gue memang nggak banyak tahu tentang privasi dia.Yang gue tahu selama ini dia selalu terlihat ceria,selalu terdengar cerewet.Dan yang lebih gue tahu lagi gue selalu suka dengar omelan dia setiap dia menemukan laci meja kerja gue yang selalu terisi berbagai macam jenis kabel yang kusut dan bergerombol.Charger HP dari yang HP-nya sendiri sudah entah kemana sampai HP yang saat ini gue pakai,charger laptop,charger kamera digital,dan berbagai jenis USB.Semua terkumpul di laci meja kerja gue.Dan selalu tangan Lala yang dengan telaten mengurai satu-satu dan menggulungnya lagi dengan rapi meskipun dengan mulut yang terus memarahi gue seakan-akan membiarkan kabel-kabel tergulung dengan liar dan menjadikannya satu itu adalah dosa besar yang ganjarannya masuk neraka jahanam.

"Kenapa sih laki-laki tuh kebanyakan ngebiarin kabel-kabelnya ruwet gini?Nggak rapiNggak telaten!Ini nandain nih kalo yang begini karakternya cuek,sombong,ngebiarin masalahnya sendiri jadi ruwet.Nti kalo udah terlanjur ruwet gini nih baru deh kalian ribet!"

Ew!Gue rasa dia pernah ambil kuliah psikologi sebelum akhirnya nasib membawa dia jadi seorangaccountant.

Oh God,sekarang gue jadi addicted sama omelannya.Gue ingin adu argumen lagi,gue ingin lihat muka sinisnya lagi,dan yang paling penting gue ingin dia ceria lagi.Gue harus bantu dia!Gue harus melakukan sesuatu!

Gue melirik kotak kue dari toko kue ternama yang dari tadi pagi sudah duduk manis di atas meja kerja gue.Kotak kue itu gue terima dari klien kerja gue,belum sempat gue buka.Akhirnya detik ini gue memutuskan untuk kembali ke meja kerja gue,mendekati kotak kue itu dan membuka tutupnya.

Hah?Gue melongo melihat isinya,hanya kue yang sangat biasa berbentuk lingkaran berdiameter kurang lebih dua puluh centimeter.Seluruh permukaannya hanya dilapisi cream tebal berwarna putih.Tanpa hiasan apapun,tanpa ada taburan coklat atau pun permen warna-warni.Sangat biasa,dan terlihat tidak menarik!Tapi gue hanya punya ini untuk menghibur Lala.Meskipun gue malas melihat tampilan kuenya tapi gue nggak mau bingung-pingung.Sebuah pisau plastik yang juga ada di dalam kotak itu langsung gue ambil dan dengan sangat hati-hati gue memotongnya.

Wow!Gue takjub melihat bagian dalam kue ini.Warna-warni.Merah,jingga,kuning,hijau,biru,dan ungu.Setiap lapisannya diberi cream berwarna putih.Raibow Cake.Tanpa pikir dua kali gue meraih HP dan mendial nomor HP Lala.

"Lala,tolong kamu ke ruangan saya segera ya."

Nggak lama Lala masuk ke ruangan gue.Membuka pintu gue dan menutupnya lagi tanpa suara berisik,dan berjalan menghampiri meja kerja gue dengan langkah yang teratur.

"Nih!Buat kamu.Langsung dimakan di sini ya." gue menyodorkan piring kertas dengan potonganrainbow cake di atasnya.

Lala cuma tersenyum dan menerimanya dengan santun.Dia melangkah menuju rak kecil di sudut ruangan,tempat gue biasa 'mengarsipkan' kertas-kertas tidak terpakai atau kertas-kertas salahprint.Tanpa canggung dia meraih selembar kertas salah print yang belakangnya masih polos.Kemudian kembali ke meja kerja gue,menaruh kertas itu di atas meja kerja gue,lalu meletakkan piring kertas yang tadi gue kasih persis di atas kertas itu.Lala's habit!Dia tidak pernah meletakkan makanannya langsung di atas meja kerja,milik siapapun.Dia selalu mengalasinya terlebih dulu dengan kertas yang tidak terpakai.Gue sudah sangat hafal dengan adat istiadat yang satu ini.Gue pun menyodorkan sendok plastik yang baru gue keluarkan dari salah satu laci (yang lain) gue.

"Makasih ya,Pak." ucapnya singkat,tapi gue bisa merasakan ketulusannya.

Kami akhirnya duduk berhadap-hadapan,makan cake bersama di meja yang sama.Meja kerja gue.Gue menikmati cake ini dengan hati,sambil memandang seraut wajah gloomy yang juga menikmati cakedengan sangat santai.Gue tenggelam dengan pikiran gue sendiri.

Cake ini begitu sederhana.Tampilan luarnya hanya putih polos tanpa hiasan apapun.Sekilas tidak menarik.Namun ketika gue memotongnya,gue mampu melihat bagian dalam cake tersebut yang penuh warna,membangkitkan selera.Setiap warna punya keunikan tersendiri,dan ketika gue mencoba memakannya cake ini terasa enak,lembut dan manis di lidah gue.Bahkan membuat gue untuk terus menyuapi potongan demi potongan cake ini.Dan yang terpenting cake ini seakan menggoda gue untuk menikmatinya lapis demi lapis.

Dan akhirnya gue mampu menemukan persamaan cake ini dengan Lala.Waktu pertama kali dia datang ke kantor ini gue tidak melihat ada hal istimewa dari dia.Wajah polos tanpa makup,hanya sekedar menggunakan baby powder dan Lip Ice.Rambutnya hanya lurus berwarna hitam dan berpotongan model biasa,tidak keriting ikal berwarna-warni seperti wanita karir yang lain.Baju yang dia pakai terbilang sopan,jauh dari kesan seorang fashionista dan sama sekali tidak seksi di mata gue.Tapi pekerjaan menuntut gue bersama dia,lambat laun gue mampu berinteraksi dengan dia dan gue mulai tahu satu persatu sifat dia yang memiliki warna tersendiri.Dia periang,supel dan ramah,sekaligus keras,berani,dan spontan.Dan itu membuat dia berbeda!Gue mempelajari setiap sifatnya,memahami satu persatu kebiasaannya.Membuat gue penasaran!Dia rainbow cake buat gue!

"Saya udah selesai nih,Pak." tiba-tiba suara Lala mengusir lamunan gue.Gue menatap dia mulai berdiri.

"Mau kemana kamu?" spontan gue mengeluarkan pertanyaan bodoh.Ya kembali ke kubikelnya lah.

"Hah?" dia bengong dengan pertanyaan gue.

"Mau buang ini." sambungnya lagi sambil menunjuk piring kertas dan sendok plastik yang tadi dia gunakan.

"Sini deh biar saya aja.Kamu duduk di situ aja.Saya mau ngajak kamu meeting."

Gue mengambil piring dan sendok yang ada di tangan kanannya dan bergegas jalan menuju pintu,membuang properti bekas pakai kami ke tempat sampah yang ada di depan pintu,di luar ruangan gue.Bisa gue rasain Lala memandangi gue dengan heran bin takjub.

"Saya mau pinjam flashdisk Bapak sebentar.Boleh?" tanya dia sesaat sebelum gue mencapai pintu.

"Boleh.Ambil aja di laci biasa." sahut gue tanpa membalikkan badan.

Tapi...oops!Gue baru menyadari sesuatu.Isi laci gue...

"BAPAAAAAAAAAAKKKKK!!!!INI KENAPA KABEL-KABELNYA BERANTAKAN LAGI SIIIIHH??KAN BARU AJA KEMARIN SAYA BERESIIIIIN!!!

Ew!Lala is back!Thanks God...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar